Make use of your data even more.

have you ever thought of what your favourite companies go through in order for them to keep creating wonderful products that you need? For companies to get to know what consumers need their have to…

Smartphone

独家优惠奖金 100% 高达 1 BTC + 180 免费旋转




Semua ada batas minimumnya

Berkacalah, dan perhatikan ukuranmu.

Ada batasan yang mungkin saja tak selalu kita mengerti. Bahwasanya dalam segala sesuatu biasanya ada batasan paling minimum agar kita tak menjadi bagian yang paling buruk.

Seperti halnya apabila kamu yang masih menjadi seorang anak. Mungkin saja orang tuamu berharap agar setidaknya setelah kamu dibesarkan, dikasih makan, disekolahkan dan diberikan kasih sayang, mereka dapat memetik sesuatu yang bisa membanggakan bagi mereka.

Entah itu kamu dapat pekerjaan yang hebat, membelikan mereka mobil, menaikkan haji, memberikan cucu, mengajak jalan-jalan dan lain-lain.

Walau nyatanya tidak semua orang tua pasti begitu, tapi orang tua mana sih yang tidak senang hatinya bila anaknya bisa membuat mereka bahagia?

Ini memanglah harapan yang baik-baik. Tapi kabar tidak menguntungkannya adalah bagaimana bila anak itu sendiri belum bisa menggapainya? Wew…

Malangnya juga, setelah lelah berusaha justru sang anak sekalipun belum mendapatkan kesempatan untuk membuat bangga orang tuanya.

Jika sudah begini, batas minimum yang orang tua ingini bila kamu sebagai anak belum bisa memberi kebanggan bagi mereka adalah paling tidak “Jangan membuat-buat masalah di keluaraga”.

See? Kalau kamu masih jadi anak yang biasa-biasa saja, belum bisa buat seneng mereka, paling tidak maksimalkan baktimu dulu. Itu sudah cukup.

Jangan sudahlah tidak patuh, tidak bakti, eh… malah jadi anak yang bangkang, ngelawan orang tua, buat masalah di masyarakat, bikin malu nama orang tua. Ini racun dong…

Sama juga dengan kita, ya. Kalau kita tahu diri kita tidak baik-baik amat di hadapan Allah, belum bisa seperti para alim yang masyaAllah cara mereka menjalani hidup, sebesar apa semangatnya belajar agama, mengikuti sunnah Nabi dll.

Maka kalau kita gak mampu semisal itu, batasan minimal bagi diri kita sendiri adalah “paling tidak jangan nambah-nambahin dosa, dan perbanyak bertaubat”.

See? Kita ini yang sadar betul kalau belum ngerti banyak soal apa aja pengetahuan agama, apa aja ibadah sunnah, hukum-hukum fiqih, maka gak perlu bersaing ke arah sana dulu.

Seminim-minimnya, paling tidak jangan pernah tinggalkan sholat 5 waktu, deh. Itu batas minimum yang sudah hebat, kok.

Kita itu manusia biasa, maka sangat wajar kalau beda-beda jalan ceritanya. Yang kita selalu pusatkan adalah bentuk proses kita dalam mengarungi harapan menjadi lebih baik itu. Ya walaupun perjalanan ke arah sana tak jarang harus terjal dan mendaki, tapi kita tak boleh berhenti.

Pelan-pelan lah…, kalau sekarang belum bisa banggakan orang tua, sedikit demi sedikit berusahalah mencari jalan dari apa yang orang tua mau, kita berikhtiar, walau tak selalu bernasib mujur, tapi kita tak boleh mundur. InsyaAllah akan ada jalannya kelak bisa membanggakan mereka.

Pelan-pelan juga lah…, kalau sekarang belum kuat belajar agama karena bahasannya berat-berat atau hati masih sulit terikat, maka sedikit-sedikit cari yang paling kita sukai dulu, nanti baru perlahan naik level. Jika semua proses menjadi lebih baik itu karena Allah, mudah-mudahan Allah akan permudah jalan kita memahami agama ini, InsyaAllah. Aaamiin…

Semoga bermanfaat ya… ☺

Add a comment

Related posts:

Forever

I have not been feeling too well, today. I have had a bit of a sour stomach. Next time, I won’t drink a big jug of beetroot juice in less than five minutes. I have been feeling like the electricity…